SEKILAS INFO
  • 2 hari yang lalu / Acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1443 H, tanggal 15 Oktober 2021
WAKTU :

Sejarah

Dahulu Kelurahan Mabar Hilir adalah bahagian dari Kelurahan Mabar setelah mengalami pemekaran pada tahun 1996 menjadi kelurahan Mabar Hilir dan   menjadi bahagian dari  enam kelurahan di kecamatan Medan Deli.

Keluarhan Mabar Hilir terdiri dari 12 lingkungan  di mana di sebelah barat dibatasi oleh jalan tol , disebelah timur berbatasan dengan kabupaten Deli Serdang sementara di sebelah utara terdapat Kawasan industri Medan ( KIM ) dan disebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Tanjung Mulia.

Di kelurahan Mabar hilir tepatnya di lngkungan V terdapat sebuah Masjid yang sangat magah dan berdiri kokoh dengan ornamen dan warna corak melayu seperti masjid-masjid pada umumnya yang ada di Medan Deli, warna kuning dan hijau sangat kental dan mencolok dengan kubah induk  yang besar  serta dilengkapai dengan kubah kecil di empat sudut masjid dan di sebelah sisi timur terdapat menara  yang tinggi dengan desain modern. Masjid itu diberi nama masjid Al-Istiqomah Mabar Hilir  yang dahuu disebut masyarakat dengan nama masjid Kampung.

Sejarah berdirinya Masjid Al-Istiqomah  di awali dari sebuah surau / langgar.

Pada tahun 1950 Bapak Kasan Wagino  mewakafkan sebidang tanah untuk digunakan sebagai tempat sholat berjamaah dan mengaji bagi masyarakat disekitar daerah itu ( surau ).

Bapak Wagino adalah orang tua dari Bp Muhammad Natsir  yang kelak menjadi Nazir di Masjid Al-istiqomah dan salah seorang yang dituakan dan tokoh agama di Kelurahan Mabar Hilir.

Disamping itu Bapak Wagino juga menghibahkan sebidang tanah dan mendirikan rumah untuk tempat tinggal guru mengaji dan imam di surau yakni Tuan guru Abu Bakar Siagian yang berasal dari Tanjung Balai.

Pada saat itu surau tersebut terbuat dari atap nipah / rumbia dan berdinding tepas serta berlantai papan, disamping surau terdapat kolan untuk tempat berwuduk.

Disamping sebagai tempat sholat berjamaah.  Pada malam hari selepas sholat magrib surau itu juga dimamfaatkan masyarakat untuk tempat mengaji bagi anak-anak dan remaja dengan  tuan guru Abu Bakar Siagian.

Salah satu murid dari Tuan guru Abu Bakar Siagian adalah Muhammad Natsir ( ketika buku ini ditulis beliau sudah meninggal ), dia bersama teman-temannya  selalu mengaji dan tidur disurau serta  ikut merawat  dan menjaga tempat ibadah tersebut.

Pada tahun 1970  warga sekitar bergotongroyong merenovasi surau  atau  langgar  untuk dijadikan Masjid  walapun kubahnya saat itu belum ada karena keterbatasan dana dan atas usul Bapak Muhammad Natsir masjid tersebut diberi nama “ MASJID AL-ISTIQOMAH “ yang dimaknai  sikap konsisten , teguh pendirian tidak berubah dalam mengerjakan sesuatu  yakni usaha untuk menjaga perbuatan baik, seperti  ibadah diantaranya memakmurkan masjid melalui sholat wajib berjamaah dan kegiatan-kegiatan  lainnya.

Pada Tahun 1980 pemerintah mulai membangun jalan Tol Belawan – Medan – Tanjung Morawa sebagai  akses jalan menuju Pelabuhan Belawan , dimana pelabuhan Belawan itu sendiri adalah  pelabuhan internasional yang  berfungsi mendistribusikan barang dari Belawan  ke Medan  dan sebaliknya untuk selanjutnya di kirim kedaerah-daerah lainnya di sumatera utara bahkan keluar negeri kegiatan ini  tentu sangat membutuhkan  akses jalur yang cepat agar pengiriman barang dapat dilakukan tepat waktu.

Jalan Tol Belawan–Medan–Tanjung Morawa (disingkat Jalan Tol Belmera) adalah jalan tol di wilayah Sumatra Utara yang menghubungkan ketiga wilayah tersebut. Jalan tol ini merupakan satu-satunya yang dikelola Jasa Marga di luar Jawa. Dibangun oleh kontraktor Takenaka Nippo Hutama dan konsultan Jepang PCI (Pacific Consultant International) Jalan tol ini mulai beroperasi pada 1986. Dengan bentangan sekitar 34 kilometer dan 2×2 lajur, jalan tol ini menghubungkan Pelabuhan Belawan ke Medan dan Tanjung Morawa, sehingga dikenal dengan nama singkatan Belmera.

Akibat pembangunan jalan Tol Belmerah, terimbas pula kepada keberadaan Masjid Al-Istiqomah atas musyawarah pengurus dan pihak Jasamarga akhirnya  Masjid Al-Istiqomah dipindahkan kearah timur yang letaknya di tempat yang sekarang ini  yakni tanah milik Bapak Trubus dengan luas ukuran 15 m x 15 m , seluruh biaya pembelian tanah dan pembangunan sepenuhnya ditanggung oleh pihak Jasamarga. Pembangunan masjid Al-istiqomah dimulai tahun 1980 dan selesai pada tahun 1981 dan pada hari jumat  tanggal 25 Desember 1981 dilaksanakan peresmian  Masjid Al-Istiqomah oleh  Bapak Walikota Medan  Bapak H. Agus Salim rangkuti serta dihadiri juga dari pihak  Jasamarga, sekaligus pelaksanakan sholat jumat  perdana.

Dalam acara peresmian tersebut dilaksanakan pengguntingan pita dan pengumandangan azan  Masyarakat begitu antusias serta bangga dengan berdirinya Masjid dipasar IV kampung lingkungan V  kelurahan Mabar Hilir.

Semakin hari kegiatan peribadatan di Masjid Al-Istiqomah semakin semarak,  seiring bertambahnya jumlah penduduk akibat pembangunan dan perluasan Kawasan Industri Medan. Banyak imigran dari daerah lain yang melakukan urbanisasi di daerah Medan Deli  sekaligus  mencari tempat kos / pemukiman di daerah kelurahan Mabar Hilir. Faktor ini menjadikan kelurahan Mabar hilir banyak dihuni kaum pendatang danmereka  tinggal menetap, diantara pendatang tersebut banyak yang beragama Islam sehingga ketika pelaksanaan sholat jumat  jamaah begitu banyak hingga sampai keluar masjid. Melihat hal tersebut BKM Al-Istiqomah yang saat itu dijabat Bapak Muhammad Natsir  bersama masyarakat mengadakan gotongroyong untuk membanguan dan merenovasi masjid  yakni membangun Menara, melebarkan teras kanan dan kiri serta belakang ruang induk, merenovasi tempat wuduk dan memasang keramik.

Pada tanggal 28 Juli 2003  seorang dermawan bernama Hj. Asni dari Jogjakarta mewakafkan tanahnya seluas 512 m2 untuk perluasan Masjid Al-Istiqomah. Tanah tersebut terletak di sebelah timur dan berbatasan dengan Masjid.

Pada tahun 2003 bapak Muhammad Natsir menyerahkan jabatan ketua BKM kepada bapak Ngatiyo yang dinilai masih mudah dan energi. Bapak Ngatiyo menjabat sebagai ketua BKM masjid Al-Istiqomah dari tahun 2003 sampai dengan tahun  2008 dan setelah itu dijabat kembali oleh bapak Muhammad Natsir sampai tahun 2011 sampai diadakan pemilihan ketua BKM yang baru.

Pada tahun 2011 diadakan musyawarah pemilihan Ketua BKM yang baruhal ini  mengingat Bapak Muhammad Natsir sudah tua dan beliau mengamanatkan untuk diadakan regenerasi kepemimpinan. Setelah diadakan musyawarah secara demokrasi terpilih menjadi ketua yang baru Bapak Suprayitno dengan sekretaris Bapak Suyono dan bendahara Bapak M. Erwin.

Tanggal 6 januari 2013 oleh pengurus baru dilakukan pengerjaan pembangunan dan renovasi Masjid dan dibangun dua tingkat dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Bapak Gatot Putjo Nugroho selaku Gubernur Provinsi Sumatera Utara dan juga dihadiri  Bapak M. Taufik selaku anggota DPRD Sumut dari praksi PKS.  Dalam kesempatan itu Bapak Gubernur  memberikan sumbangan sebesar 10 juta rupiah.

Anggaran yang dibutuhkan  untuk pembangunan Masjid Al-istiqomah Mabar Hilir sebesar 1,5 Milyar rupiah, sementara dana yang tersedia hanya 183 juta rupiah. Untuk menanggulangi kekurangan dana,  masyarakat bergotongroyong dengan memberikan sumbangan sesuai kemampuan dan diambil setiap bulan oleh panitia yang diunjuk.

Pada tanggal 08 Pebruari 2015, hari jumat Wali kota Medan Bapak Zulmi Eldin memberikan bantuan sebesar 40 juta rupiah untuk penyelesaian pembanguan Masjid Al-Istiqomah di waktu   yang sama terjadi pergantian pengurus BKM yang baru dan terpilih Bapak H. Eko Ariawan menggantikan pengurus BKM yang lama Bapak Suprayitno.

Dalam rangka percepatan dan penyelesaian pengurus  terus mencari terobosan dalam mencari dukungan dana, alhamdullilah pada tahun 2018 Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara memberikan bantuan sebesar 75 juta rupiah melalui anggaran APBD. Walapun bantuan ini tidak begitu besar akan tetapi dapat membantu  guna untuk penyeselesaian  pembangunan bangunan induk masjid , kamar wuduk serta kamar mandi , teras  dan tempat tinggal marbot / penjaga masjid , dimana  awalnya sebahagian masyarakat  sedikit meragukan kemampuan  pengurus dalam menyelesaikan pembangunan masjid karena mengingat biaya yang harus disiapkan begitu besar.  Akan tetapi , berkat  doa dan usaha pengurus dan panitia serta  dukungan masyarakat khususnya masyarakat lingkungan V  kekhawatiran itu tidak terbukti dan pembangunan Masjid dapat dirampungkan  dan  dibutuhkan waktu kurang lebih 7 tahun untuk menyelesaikannya.

Setelah selesainya pembangunan ruang induk masjid , kamar wuduk serta kamar mandi , teras  dan tempat tinggal marbot / penjaga masjid pengurus melaksanakan program selanjutnya yaitu pembangunan menara, gapura dan qubah empat sudut, pemagaran halaman masjid dan pemasangan paving blok serta pembangunan dan renovasi  kamar mandi dan tempat wuduk luar sekaligus pemasangan canopy.

Pada  tanggal 4 Pebruari Tahun 2018 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan menara Masjid oleh Calon Gubernur Provinsi Sumut  Bp. Edy Rahmayadi dan saat itu beliau memberikan sumbangan dana sebesar 50 juta rupiah serta keramik sebanyak 200 kotak.

Disamping itu perusahan Kawasan Industri Medan ( KIM ) ikut memberikan bantuan berupa faving blok untuk halaman  masjid dan saat ini sudah terpasang.

Pada tahun 2020 telah selesai pembangunan menara, gapura  dan  pagar besi keliling dan selanjutnya tahun 2021 telah diselesaikan pembanguan dan renovasi kamar wuduk dan kamar mandi  luar dibelakang menara yang ada saat ini, sementara pembuatan kubah empat sudut masih dalam pengerjaan.

Saat ini pengurus sedang giat-giatnya menyelesaikan pembangunan  kubah empat sudut  dan diharapkan akhir tahun 2023   dapat diselesaikan.

Inilah sekelumit sejarah tentang Masjid Al-Istiqomah Mabar Hilir yang dahulunya di sebut dengan Masjid kampung sekarang menjadi Masjid raya – yang dahulu dari surau sekarang menjadi Masjid .