SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Sebaik-baik kamu adalah bermanfaat bagi orang lain
WAKTU :

Maulid Nabi ” Bid’ah atau Tidak ? “

Terbit 24 Oktober 2021 | Oleh : suprianto | Kategori :
Maulid Nabi   " Bid'ah atau Tidak ? "

Tausyiah Subuh ( 17 Rabiulawal 1443 H / 24 Oktober 2021 )

Maulid Nabi  ”  Bid’ah  atau Tidak ?  “

Oleh Al-Ustadz Daka Juo Simanjuntak, M.KomI

انّ الْحَمْدَللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسَتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

Sekarang kita berada dalam bulan Rabiul Awal . Biasanya, umat Islam di mana pun berada menggelar dan merayakan peringatan maulid atau kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi, setiap kedatangan bulan maulid Nabi selalu muncul pertanyaan siapakah pencetus atau orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi. Ada beragam versi terkait awal mula peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Sebagian berpendapat peringatan tersebut dilakukan pertama kali saat dinasti Fathimiyah berkuasa. sementara yang lain menyatakan  Salahudin Al Ayyubi yang perdana memulainya.

Pada tahun ini, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW  12 Rabiull Awal 1443 Hijriyah  jatuh pada hari selasa tanggal 19 Oktober 2021,  namun merayakan Maulid Nabi masih menjadi polemik bahkan perdebatan bagi sebagian kecil masyarakat. karena menurut mereka merayakan maulid Nabi Muhammad SAW hukumnya bi’dah  dan sebahagian masyarakat yang lain hukumnya bukan bi’ah kalaupun bi’dah adalah bi’dah khasanah.

Alkisah termaktub pada Kitab Navadim Zajip Antusoha yang ditulis oleh Sayid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Al Hasani Al Maliqi, ulama besar Mekkah Al Mukaromah menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bernama Abu Lahab,  Abu Lahab mempunyai seorang budak perempuan namaya Suwaibah yang ditugaskan menjaga adik iparnya, Aminah.

Aminah  melahirkan Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiull Awal tepatnya pada hari Senin di tahun Gajah. berita kelahiran ini oleh Suwaibah disampaikan kepada Abu Lahab. mendengar berita itu ,  Abu Lahab sangat senang dan gembira karena adiknya yang meninggal sudah tergantikan dengan keponakannya yang baru lahir dan saking bahagianya, Abu Lahab langsung membebaskan budak Suwaibah . Apa yang dilakukan Abu Lahab pada saat hari kelahiran Nabi Muhmmad SAW ini merupakan sedekah terbesarnya sehingga Allah SWT memberikan keringanan dosa di setiap hari Senin.

Kisah Abu Lahab tersebut termaktub pada Kitab Navadim Zajip Antusoha yang ditulis oleh Sayid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Al Hasani Al Maliqi seorang  ulama besar Mekkah Al Mukaromah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah dilakukan umat Islam sejak tahun kedua hijriah. dengan tujuan  menghormati dan meneladani pribadi Rasul Muhammad sebagai utusan Allah SWT yang membawa risalah ajaran kebenaran, karena sesungguhnya di dalam pribadi Rasul adalah contoh suri tauladan terbaik karena para nabi adalah teladan kita dan sekaligus menjadi imam kita. Sebagaimana halnya kita harus mengikuti imam di saat shalat, kita juga harus mengikuti perilaku para nabi dalam seluruh aspek kehidupan. Hal itu harus dilakukan sebab kehidupan yang hakiki bagi kita adalah kehidupan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad dan para nabi lain sebelum beliau. Para sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah telah berhasil mengikuti jejak Rasulullah langkah demi langkah. Itulah sebabnya para sahabat dan tabiin berhasil mencapai kedudukan mulia,”

Kemuliaan pribadi Rasul Muhammad SAW telah digambarkan Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Azhab ayat 21

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam beberapa literatur, dijelaskan bahwa maulid adalah perayaan yang dilakukan untuk mengingat peristiwa kelahiran Nabi, dan berkaitan dengan momentum kebahagiaan. Meski begitu, tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah melakukan pesta kelahiran selama hidupnya, begitu juga dan tiga generasi pertama Muslim setelahnya.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, seorang ahli hadits dari Mazhab Syafi’i terkemuka secara tegas mengatakan bahwa maulid adalah bidah, namun bukan termasuk dalam bidah tercela (mustaqbahah).

Al-‘Asqalani lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak semua bidah adalah sesat (dhalalah).

“Karena dia (Al-‘Asqalani) sepaham dengan Imam Syafii yang meyakini bahwa bidah itu tidak selalu jelek dan jika memang ada manfaatnya maka tidak apa dilakukan,” jelas Ustadz Sarwat kelahiran Kairo, Mesir 1969 silam itu.

“Bukan berarti hal yang tidak dilakukan pada masa Nabi menjadi haram jika dilakukan, karena memang banyak ritual yang dilakukan saat ini meskipun tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah, dan itu tidak serta merta menjadi haram. Kecuali jika Nabi dengan jelas melarang,” sambungnya.

Dia menjelaskan, para ulama yang membolehkan perayaan maulid, kebanyakan adalah ulama yang meyakini bahwa ada bidah terpuji (hasanah) dan bidah tercela ( mustaqbahah), sebaliknya, ulama yang menolak perayaan maulid nabi adalah ulama yang menolak konsep bid’ah hasanah.

Tidak semua ulama sepakat bahwa bidah itu haram, dan ada beberapa ulama yang menggunakan kata “bidah” sebagai representasi kata haram. Tapi banyak juga yang memahami bid’ah sebagai bidah saja, dan itu berbeda dengan konteks haram,”

Bukan hanya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam As-Suyuti, seorang ulama dan cendekiawan Muslim yang hidup pada abad ke-15 di Kairo, Mesir, juga meyakini bahwa maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bidah hasanah karena biasanya diisi dengan perbuatan-perbuatan baik, seperti membaca Alquran, hadist dan berkumpul bersama saudara Muslim lain. “Menurutku bahwa perayaan maulid Nabi SAW dengan cara berkumpulnya sekelompok manusia, membaca Alquran, membaca hadits Nabi, kemudian dihidangkan makanan untuk para hadirin maka ini termasuk perbuatan bidah hasanah yang pelakunya mendapatkan pahala. Sebab dalam perayaan tersebut ada unsur mengagungkan Nabi SAW, menampakkan kebahagiaan dan senang dengan kelahiran Nabi SAW,  Hal ini muncul karena rasa mahabbah atau cinta dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia diutusnya Nabi SAW kepada kita semua.”

Imam Abu Syamah, guru dari Imam An-Nawawi, juga menilai maulid Nabi merupakan bidah yang baik karena perayaan ini muncul disebabkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Di antara yang termasuk bidah yang baik di zaman sekarang adalah perayaan Maulid Nabi SAW. Di dalamnya dilakukan sedekah, kebahagiaan dengan kelahiran Nabi SAW.

Pemimpin ulama besar dunia, Syeh Yusuf Al Qorbowi menceritakan bahwa sahabat Nabi tidak merayakan Maulid Nabi lantaran mereka hidup bersama Nabi, makan bersama Nabi, salat dengan Nabi, dan menengok Nabi.

Namun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pada masa Tabiin tidak ada orang yang mengenang hari lahir Nabi, hingga suatu saat ada satu di antara sahabat Nabi membawa anak mereka di atas bukit Uhud. Di sana sahabat Nabi tersebut mengenalkan Nabi Muhammad SAW, sampai sebegitu mereka merasa cintanya kepada Nabi.

Dalam akhir ceramahnya Ustadz  Daka Juo Simanjuntak menyampaikan kepada para jamaah,  jangan terlalu cepat mengungkapkan  bahwa setiap yang tidak dilakukan Nabi adalah bid’ah dan bi’dah adalah tertolak / haram. namun marilah kita melihat dari sisi syiar dan kemamfaatannya. Memperingati Maulid Nabi Muhmmad SAW artinya mengenang  kembali akan lahirnya seorang manusia yang agung ciptaan Allah SWT yang telah merubah tatanan dunia dari zaman kegelapan ( jahiliyah ) menuju zaman yang penuh dengan nur kebenaran dengan membawa risalah agama Islam sebagai agama yang diridhoi oleh Allah SWT. Bagaimana mungkin kita tidak mengenang keagungan Nabi –sementara untuk hari kelahiran kita saja kita selalu merayakan apatalagi hari kelahiran Nabi Muhammad  seorang rasul yang akan memberi syafaat di padang mashar kelak. Karena dengan memperingati Maulid Nabi berarti kita mensyiarkan agama Allah , menghormati dan membesarkan namanya terlebih kita mampu mengambil suritauladan di dalam pribadi Nabi untuk selanjutnya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. karena ibadah itu bukan hanya pada tataran  simbol / ritual  akan tetapi pada tataran  amalan. ujarnya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wassalamualaikumwarrahmatullahwabarakatu.

Kegiatan tausyiah subuh di Masjid Al-istiqomah dihadiri oleh pengurus BKM dan para jamaah  yang berdomisili di daerah Mabar Hilir dan sekitarnya,    berakhir pada pukul 06.25 dan  dilanjutkan  sarapan pagi bersama.

 

SebelumnyaKhutbah Jumat 22 Oktober 2021 ( DR. Iwan Nasution MHI ) Sesudahnya4 Ciri Manusia Penghuni Neraka Saqor

Tausiyah Lainnya